Sejarah Parmusi

UNSUR FUSI PPP

PARMUSI   sebagai  Partai   Muslimin   Indonesia,   merupakan   kelanjutan historis dari keberadaan Muslimin Indonesia (MI), sebagai salah satu unsur dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) setelah fusi politik pada tanggal 5 Januari 1973, yaitu kelanjutan dari Partai Muslimin .Indonesia. Untuk itulah perlu ditelusuri asal-usul berdirinya  PARMUSI ini.

Banyak kalangan yang memiliki pemahaman dan pemikiran, bahwa setelah Partai  Masyumi  membubarkan  diri  karena  tekanan  Presiden  Soekarno tahun 1960, diperlukan suatu wadah baru berupa partai politik yang sedikit banyak memiliki karakteristik yang kurang lebih sama. Berbagai pertemuan sebagai upaya  untuk itu  pun  dilakukan.  Pada  awalnya,  dibentuk  Badan Koordinasi Amal Muslimin bulan Desember 1965 untuk menjajaki pendirian Partai Islam baru guna mewadahi aspirasi umat yang belum tersalurkan

dalam suatu partai politik yang telah ada pada waktu itu.

Setelah melalui rapat-rapat persiapan maka pada tanggal 7 Mei 1967 terbentuklah Panitia Tujuh, yaitu: KH. Faqih Usman (Ketua), Anwar Harjono (Wakil Ketua), Agus Sudono (Sekretaris), Nj. RAB Sjamsuridjal, Marzuki Jatim, Hasan Basri, EZ Muttaqin  (Anggota-anggota). Akhirnya disepakati bahwa Partai yang dimaksud akan dibentuk adalah Partai Muslimin Indonesia. Ormas-ormas Islam yang menunjukkan dukungannya dengan menandatangani piagam pendirian Partai Muslimin Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1967, adalah:

  1. Muhammadijah (AR Fachrudin dan Djindar Tamimi)
  2. Al-Djamijatul Washlijah (H. Udin Sjamsuddin)
  3. GASBIIIIIINDO – Gabungan Serikat2 Buruh Islam Indonesia (Andi Mappasala, Agus Sudono)
  4. Persatuan Islam (E. Sar’an, Sukajat)
  5. Nahdlatul Wathan (Moh. Said)
  6. Mathla’ul Anwar (H. Uwes Abubakar)
  7. SNIIIIII – Serikat Nelajan Islam Indonesia (Djadil Abdullah)
  8. KBIM-Kongres Buruh Islam Merdeka (Maizir Ahmadyn’s)
  9. PUI-Persatuan Ummat Islam (A. Ridwan)
  10. Al-Ittihadijah (M. Thabrani R)
  11. PORBISI-Persatuan  Organisasi-2 Buruh Islam se-Indonesia (Sjarif Usman)
  12. PGAIRI-Persatuan Guru Agama Islam Republik Indonesia (DarussaminAS)
  13. HSBI-Himpunan Seni Budaja Islam (Junan Helmy Nasution)
  14. PITI-Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (RN Ibrahim)
  15. Al-Irsjad (Ali Hubeis)
  16. Wanita Islam (Nj. RAB Sjamsuridjal),

Himpunan  Mahasiswa  Islam  (HMI),  Pelajar  Islam  Indonesia  (PII),  dan Majelis Seni Budaja Islam (MASBI) juga mendukung gagasan tersebut. Di sini  kelihatan  bahwa  PARMUSI  didukung  dan  didirikan  oleh  16  ormas Islam  ditambah dukungan 3  (tiga) ormas dari  berbagai kalangan, yaitu : organisasi da’wah yang berbasis massa, organisasi buruh, nelayan, seniman-budayawan, guru agama, organisasi muslim Tionghoa, organisasi wanita,   serta   organisasi   mahasiswa   dan   pelajar.   Artinya,   di   dalam PARMUSI   bergabung   beragam   unsur   atau   elemen   kaum   muslimin Indonesia yang sebelumnya telah terorganisir dengan baik.

Kepengurusan pun disusun dan revisi terakhir dibicarakan dan diputuskan dalam rapat tangal 14 Februari 1968 di Jalan Menteng Raya 58, Jakarta.Pengakuan berdirinya Partai Muslimin Indonesia lengkap dengan susunan pengurus akhirnya disetujui Pemerintah dengan Surat Keputusan Presiden RI nomor 70, tertanggal 20 Februari 1968.

Dalam perkembangan selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia melakukan penyederhanaan  partai-partai politik.  Pada  tanggal  5  Januari
1973, deklarasi fusi seluruh partai Islam yang ada, yakni 4 (empat) Partai Politik Islam, yaitu  : Partai  Muslimin Indonesia  (PARMUSI), Partai   NU, Partai Islam PERTI, dan PSII bersepakat untuk menyatukan kegiatan politiknya ke dalam wadah partai politik Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan  (PPP).Setelah  bersama-sama  Partai  Politik  Islam  lain berfusi menjadi satu partai politik, yakni PPP, maka warga PARMUSI di lingkungan  PPP  bernaung  dalam  wadah yang  dikenal  dengan  Muslimin Indonesia (MI) yang merupakan jaringan yang bersifat longgar, karena baik secara  organisatoris  maupun sosio-kultural mereka kembali  ke  “habitat” ormas masing-masing.

 

MENJADI PARMUSI

Di awal era reformasi, kelahiran Persaudaran Muslimin Indonesia (PARMUSI) merupakan salah satu jawaban atas kenyataan bahwa kepemimpinan MI yang pada waktu sebelumnya berhimpit atau menyatu dengan kepemimpinan PPP. Ketika PPP sudah berganti kepemimpinan, MI sulit untuk melakukan konsolidasi.Dengan kepemimpinan yang ada, MI praktis menjadi stagnan. Mekanisme pergantian kepemimpinan melalui muktamar tidak berjalan. Untuk itu beberapa pimpinan, tokoh, dan aktivis MI muda melakukan terobosan, guna mengadakan revitalisasi MI, khususnya yang berada di dalam PPP, dengan mendeklarasikan Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) pada hari Ahad, tanggal 26 September 1999 di Jogjakarta dengan kepemimpinan baru sampai terselenggaranya  Muktamar/  Musyawarah Nasional. Teks deklarasi yang ditandatangani oleh 19  penandatangan  yang menjadi deklarator tersebut adalah sebagai berikut :

DEKLARASI PERSAUDARAAN MUSLIMIN INDONESIA ( PARMUSI )

Peranan  umat  Islam  Indonesia  dalam  kerangka  kehidupan  berbangsa diawali sejak kehadiran kaum penjajah di bumi jamrud katulistiwa ini, telah berlanjut dalam perjuangan merintis, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia sebagaimana diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, serta berkesinambungan hingga saat ini.

Salah satu komponen anak bangsa pelaku sejarah tersebut adalah mereka yang tergabung dalam “Keluarga Besar Bulan Bintang” yang telah mematrikan sebuah semangat juang bernuansa "ke-Islaman dan kebangsaan.”

Semangat  juang  tersebut  tidak  pernah  redup  selama  Indonesia  berada pada era Orde Lama, dan ketika memasuki era Orde Baru semangat ini pun bangkit dengan melalui “Badan Amal Muslimin Indonesia” dalam perjuangan politik membentuk “Partai Muslimin Indonesia” yang oleh Keluarga  Besar Bulan Bintang dikenal dengan  sebutan  “PARMUSI” dan dalam kehidupan Orde Baru berubah menjadi “Muslimin Indonesia atau  MI.

Di era reformasi ini, keluarga Besar Bulan Bintang khususnya Muslimin Indonesia terpanggil untuk membangkitkan dan menyadarkan kembali semangat juang yang telah diukir dengan tinta emas oleh para pendahulu perjuangan ummat Islam tersebut.

Maka pada hari Ahad tanggal 26 September 1999 M bertepatan dengan tanggal  16  Jumadil  Tsani  1420  H  bertempat  di  Hotel  Ambarrukmo Jogjakarta,  kami  bersepakat  melahirkan  sebuah organisasi kemasyarakatan yang diberi nama :

“Persaudaraan Muslimin Indonesia” disingkat “PARMUSI” Dengan maksud dan harapan kiranya dapat menjadi wadah perjuangan ummat  khususnya Keluarga Besar Bulan Bintang dan Muslimin Indonesia dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia sesuai cita – cita luhur proklamasi  17  Agustus  1945  yang  senantiasa  beriman  dan  bertaqwa kepada Allah SWT.

DEKLARATOR PERSAUDARAAN MUSLIMIN INDONESIA

  1. H. Faisal Baasir
  2. Drs.H.Jusuf Syakir
  3. Drs.Moh.Husnie Thamrin
  4. H.M. Fatchurrahman H.M
  5. H. Ali Hardi Kiaidemak, SH
  6. H. Bachtiar Chamsyah, SE
  7. H. Mudrick S.M. Sangidoe
  8. Drs. H.M. Alfian Darmawan
  9. dr. H. Fauzi A.R Fachrudin
  10. H. Ahadin Mintaroem
  11. H.M. Ali Taher Parasong, SH
  12. H.M. Djafar Shidiq
  13. Ir.H. Abdul Kadir Ismail
  14. Ir. H.M. Saleh Khalid, MM
  15. Drs. H. Muntholib Sukandar
  16. H. Muslimin, BBA
  17. H. M. Cholil Subarie
  18. H. M. Taufiq, SH
  19. H. Muh. Mirdasy

Kelahiran PARMUSI sebagai ormas tersebut merupakan jawaban untuk memacu secara kualitatif dan kuantitatif seluruh anggota PARMUSI dalam berbagai posisi di seluruh lapisan kemasyarakatan. PARMUSI juga memanfaatkan momentum era reformasi dengan membuka peluang untuk melakukan  revitalisasi  MI  di berbagai bidang,  khususnya  bidang  politik, sosial-ekonomi, budaya, dan keagamaan.